Ketika Hewan Memiliki Identitas: Mengembalikan Ruang bagi Kehidupan di Dunia yang Terlalu Manusia (part 2)

Mungkin kita perlu belajar menjadi manusia dengan cara yang berbeda. Manusia sering disebut sebagai makhluk yang paling mulia. Kita memiliki kemampuan berpikir, menciptakan teknologi, membangun peradaban, membuat hukum, dan menentukan arah dunia. Namun kemampuan yang sama juga membuat manusia menjadi salah satu faktor kuat yang memberikan pengaruh terhadap kehidupan di planet ini, pengaruh baik maupun buruk.
Kita membangun kota, tetapi mengambil habitat. Kita menciptakan teknologi, tetapi menghasilkan limbah. Kita membudidayakan hewan, tetapi juga mengeksploitasinya. Kita berbicara tentang kemajuan, sementara spesies lain harus beradaptasi dengan dunia yang semakin sempit bagi mereka. Mungkin persoalannya bukan karena manusia memiliki kemampuan yang terlalu besar.
Mungkin persoalannya adalah ketika kemampuan tersebut membuat kita lupa bahwa kita bukan satu-satunya penghuni dunia ini.
Dalam pendekatan spiritual yang lebih holistik, kehidupan tidak berdiri sendiri. Manusia terhubung dengan tanah yang dipijaknya, air yang diminumnya, tumbuhan yang memberinya udara, serangga yang membantu penyerbukan, burung yang menyebarkan benih, dan hewan-hewan yang menjaga keseimbangan ekosistem.
Kita tidak hidup di atas alam. Kita hidup di dalam alam.
Dan hewan bukan sekadar objek yang berada di sekitar kehidupan manusia. Mereka adalah bagian dari jaringan kehidupan yang sama. Dari manusia-sentris menuju kehidupan-sentris. Selama ini, banyak sistem dibangun dengan perspektif manusia sebagai pusat. Sebuah kota dirancang berdasarkan kebutuhan manusia. Ekonomi bergerak berdasarkan kepentingan manusia. Teknologi dibuat untuk kenyamanan manusia. Bahkan ketika kita berbicara tentang konservasi, sering kali pertanyaannya kembali kepada: “Apa manfaatnya bagi manusia?”
Padahal mungkin sudah waktunya kita mengajukan pertanyaan yang berbeda. Bukan hanya, "Apa manfaat hewan bagi manusia?" Tetapi, Apa yang kita berikan kepada hewan sebagai sesama makhluk hidup?
Bukan hanya, "Mengapa biodiversitas penting bagi manusia?" Tetapi, Bagaimana manusia dapat hidup dengan tetap memberi ruang bagi kehidupan lain untuk ada?
Perubahan pertanyaan ini terlihat sederhana, tetapi sebenarnya sangat fundamental. Karena ia menggeser cara pandang dari human-centric menjadi sesuatu yang lebih life-centric. Di dalam perspektif tersebut, keberadaan seekor hewan tidak harus selalu dibenarkan berdasarkan manfaatnya bagi manusia. Ia boleh ada karena ia memang hidup.