← Semua artikel
Cerita

Ketika Hewan Memiliki Identitas: Mengembalikan Ruang bagi Kehidupan di Dunia yang Terlalu Manusia (Part 1)

GKGenoveva Karinzahari ini2 menit baca
Ketika Hewan Memiliki Identitas: Mengembalikan Ruang bagi Kehidupan di Dunia yang Terlalu Manusia (Part 1)

Ada sesuatu yang perlahan terkikis ketika kita melihat dunia hari ini. Hutan berkurang. Satwa kehilangan habitat. Laut dipenuhi sampah. Populasi berbagai spesies terus menurun. Hewan-hewan liar semakin sering ditemukan di ruang yang seharusnya menjadi milik manusia, sementara hewan yang hidup berdampingan dengan kita pun tidak selalu mendapatkan kehidupan yang layak. Di tengah kondisi seperti ini, rasanya mudah untuk merasa lelah. Bahkan bagi orang-orang yang peduli terhadap lingkungan dan hewan, ada titik ketika begitu banyak kerusakan membuat hati menjadi kebal.

Kita melihat angka. Berapa hektare hutan yang hilang. Berapa spesies yang terancam punah. Berapa banyak hewan yang diselamatkan. Berapa banyak yang mati. Namun mungkin ada sesuatu yang hilang ketika kehidupan hanya diterjemahkan menjadi angka. Kita lupa bahwa setiap angka itu adalah kehidupan.

Seekor harimau bukan hanya bagian dari statistik populasi harimau. Seekor kucing bukan hanya bagian dari jumlah populasi kucing. Seekor burung bukan sekadar satu individu dari sebuah spesies.

Mereka adalah makhluk hidup yang memiliki keberadaan. Dan mungkin, salah satu langkah paling sederhana untuk mengembalikan keberadaan itu adalah dengan mengenali identitas mereka.

Dalam kehidupan manusia, identitas adalah sesuatu yang sangat mendasar. Kita memiliki nama, kartu identitas, alamat, riwayat kesehatan, hubungan keluarga, bahkan rekam jejak kehidupan. Identitas membuat keberadaan seseorang dapat dikenali dan diakui.

Tetapi bagaimana dengan hewan?

Sebagian besar dari mereka tidak memiliki identitas yang tercatat. Ketika seekor kucing hidup di jalan, ia sering kali hanya disebut “kucing liar”. Ketika seekor anjing berpindah tangan, tidak selalu ada catatan mengenai dari mana ia berasal atau bagaimana riwayat kehidupannya. Ketika seekor satwa diselamatkan, data mengenai dirinya bisa saja berhenti pada satu laporan, kemudian hilang begitu saja.

Padahal, ketika sesuatu tidak memiliki identitas, keberadaannya menjadi lebih mudah untuk dilupakan. Di sinilah kami melihat bahwa pendataan hewan bukan sekadar persoalan teknologi. Ia memiliki dimensi yang jauh lebih dalam.

Mencatat seekor hewan berarti mengatakan: “Kami tahu kamu ada.” Memberikan identitas berarti mengatakan: “Keberadaanmu layak untuk dikenali.” Dan menyimpan riwayat kehidupannya berarti mengatakan: “Cerita hidupmu tidak harus hilang begitu saja.”

bersambung...